Cerpen Menyentuh Hati
haii sobat blogger!! saya akan memposting cerpen dari kak Mirza Diani Amalia. cerpen ini sangat bagus dan menyentuh hati. saya sangat suka membaca cerpen ini karena menurut saya cerpen ini bagus, simpel, mudah di pahami, enggak berbelikt belit dan sangat menyentuh hati... langsung aja yuk kalo mau baca......
AYAH
Karya Mirza Diani Amalia
Aku benci kepadanya.
Bnar-benar benci. Laki-laki paruh baya itu, yang seharusnya amat kucintai,
satu-satunya orang yang kumiliki setelah Ibu pergi, malah ku benci mati-matian.
Setiap hari, aku selalu pulang lewat tengah malam. Bagiku, berada dirumah itu
bagaikan di Neraka. Satu alasan, karena dirumah ada orang itu.Setiap ia
memergokiku pulang larut malam, Ia langsung memarahiku habis-habisan, mengomel
panjang lebar. tentang ini lah, itu lah. Yang ia tak tahu, Ucapan panjang
lebarnya itu sia-sia. Membuang tenaganya saja, karena toh aku sama sekali tak
menghiraukannya, menutup kupingku rapat-rapat, seolah tak ada yang berbicara
kepadaku.
Entah apa yang merasuki diriku, hingga aku benar-benar membencinya. Dia Ayahku!
Ayah kandungku! tapi apa pantas ia ku panggil Ayah? Dia membuangku dan Ibu,
sementara ia menikah lagi dengan wanita lain, yang lebih muda dan cantik
daripada Ibu. Lalu tiba-tiba ia kembali lagi dalam kehidupan kami setelah
wanita itu pergi meninggalkannya. Apa pantas laki-laki tak bertanggung jawab
ini ku panggil ayah?! Kemana saja ia seelama ini?! Aku dan Ibu, bersusah payah
hidup melarat di jalanan, tanpa sepeser pun uang. Sebungkus nasi untuk makan
pun kami sudah sangat bersyukur.
Ayah macam apa, yang
membiarkan anaknya, memeras keringat dibawah terik matahari, membiarkan anaknya
bertaruh nyawa di tengah jalanan yang penuh mobil-mobil berseliweran, sementara
dirinya enak-enakan. Duduk manis, bersantai di rumah mewah bersama wanita yang
tak tahu diri itu tanpa memikirkan sedikitpun kondisiku dan Ibu. Kutanya sekali
lagi, apa itu pantas disebut ayah?!
Puncak kebencianku padanya, pada suatu waktu, saat aku mencoba melunakkan
hatiku untuk ikut makan malam bersamanya. Ia mengajakku berbicara tentang masa
depanku. Bulan depan aku lulus SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Dia
memaksaku mengambil jurusan Ekonomi manajemen untuk meneruskan bisnisnya. Tapi
ia tak pernah tahu, kalau sejak kecil aku ingin sekali menjadi seniman. lantas,
aku menolak iddenya dan mengatakan pendapatku untuk mengambil jurusan kesenian.
Tapii apa yang ia perbuat?! Malah memarahiku habis-habisan, menghina
pendapatku, mencaci impianku sejak kecil itu, mengatakan kalau aku benar-benar
sinting dan bodoh bila masuk ke fakultas kesenian.
Kukatakan kepadanya setengah membentak, "Aku sudah besar! Aku bisa
menentukan kehidupanku sendiri! Ini hidupku, hakku pribadi untuk menentukan
kemana aku akan melangkah selanjutnya! Aku bukan robot yang bisa kau perintah
kesana kemari!"
Mendengar aku tetap kekeh pada pendirianku, ia malah mengancam tak mau
membiayai kuliahku. Tantangan yang ia beriak pun kujawab dengan aksiku minggat
dari rumah.
Hidupku kembali seperti dulu, sendirian. berjuang sendiri demi hidupku, bebas,
bebas menggapai semua impianku yang sejak dulu ingin kucapai. sampai akhirnya 2
tahun berlalu. Tiba-tiba, ia datang dan berdiri di depan pintu kost ku.
Penampilan laki-laki itu jauh berbeda dari 2 tahun yang lalu. Matanya cekung
karena kurang tidur, badannya kurus dan mulai mengeriput, dan... dimana wajah
angkuh nan sombong yang biasa ia tampilkan itu? Hanya ekspresi sendu yang dapat
kulihat dari wajahnya saat itu. Tapii rasa kesal dan amarahku masih amat besar
terhadapnya. Langsung ku usir dia dari rumahku. ternyata sifat keras kepalanya
sama sekali tak berubah. Ia tetap berdiri disana, tak bergeming sedikitpun.
Kesalku bertambah, kudorong badannya menjauhi pintu lalu aku pergi menjauh. Ya
tuhan, betapa keras kepalanya ayahku ini. Dengan fisik rentanya ia masih
mencoba mengejarku. Aku terpaksa mempercepat langkahku, berlari menyebrangi
jalan raya yang tepat berada di depan kost-ku.
Yang aku tak tahu, saat itu sebuah mobil box melaju kencang ke arahku. Saat aku
menyadarinya, aku hanya pasrah dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
* * *
Saat aku membuka mata, kukira aku telh terbang menuju alam lain sana, tetapi
tidak. Nyatanya aku masih terduduk di pinggir trotoar, sementara warga semakin
ramai berkerumun di depanku. Rasa penasaran membuatu bangkit dan melihat apa
yang telah terjadi.
Dalam pandanganku, laki-laki itu terkapar, bersimbah darah. Tak terasa air
mataku menggenang, bahuku mulai berguncang keras. Entah mengapa tangisku
mengalir deras tanpa bisa ditahan. Rasa takut kehilangan menjalari seluruh
ragaku. Untuk pertama kalinya, aku menyadari, aku menyayangi Ayahku.
* * *
Pendarahan otak yang dialami ayahku gara-gara kecelakaan itu terlalu parah.
Nyawanya tak bisa diselamatkan. Sebagai anak satu-satunya, jelaslah kalau hanya
aku yang bisa meneruskan bisnis ayahku ini. 2 hari setelah kematian ayah, aku
langsung pergi ke kantor. Mengurus semua keperluan yang kubutuhkan untuk
menggantikan ayahku di perusahaan. Aku masuk ke dalam ruangan kerja ayahku
untuk membereskan barang-barang peninggalannya. dan aku menemukan sebuah surat
lusuh yang menarik perhatian ku dalam laci mejanya. Kubaca surat itu perlahan.
Napasku tertahan membaca setiap kalimat dalam surat itu.
......Anakku tersayang.. Langit Ramadhan. Dimana kamu sekarang? Ayah kangen
sama kamu. Apa kamu masih ingat sama ayah? Pasti kamu sudah besar sekarang.
Maafin ayah, nak. Maafin ayah. Ayah pergi meninggalkanmu dan ibumu. ayah
menterlantarkanmu. Maafin ayah. Ayah nggak bisa menemani kamu tumbuh dewasa.
Ayah nggak pernah memberimu semangat saat kamu bertanding bola dengan
teman-temanmu. Ayah juga nggak pernah menemani kamu bermain, Ayah nggak pernah
melakukan apa yang dilakukan seorang ayah kepada anaknya. ayah minta maaf, nak.
Ayah benar-benar minta maaf. Meninggalkanmu dan Ibu, adalah kesalahan terbesar
yang pernah ayah buat. maafin Ayah...
Bercak tetesan air mata ayah masih tercetak jelas diatas kertas itu. Membuatku
menyadari kesalahan terbesarku. Membenci Ayahku, seseorang yang dulu sangat
kurindukan kehadirannya. kunantikan kasih sayang serta pelukannya. Kini semua
telah terlambat. Aku benar-benar terlambat menyadarinya, bahwa sebenarnya aku
sayang ayahku, bahwa sebenarnya aku butuh perhatian dan kasih sayangnya,
seperti anak-anak lainnya. Lantas aku mengutuki diriku. Tuhan, mengapa
penyesalan selalu datang terlambat?
PROFIL
PENULIS
Mirza Diani Amalia, lahir di Jakarta, bulan Agustus 16 tahun silam. nggak
benar-benar percaya diri dengan karyanya. sekarang kelas XI IPA di SMA Negeri
kota Tangerang. cerita ini niatnya mau diikutin lomba bulan bahasa, tapi karena
nggak sesuai tema, jadi bingung harus diapain dan akhirnya daripada sia-sia
mending dimasukkin kesini lagi aja. maaf yah kalo agak garing. kalo mau tau
lebih lanjut follow aja @Mirza_diani , kirim e-mail dan wall facebook berupa
masukan ke mirza.diani@rocketmail.com thanks :D